Tuban - Kondisi fisik tidak sempurna bukan menjadi
alasan untuk pasrah dan berdiam diri di rumah. Begitulah pesan yang
ingin disampaikan Daswadi (63), warga Desa Temayang Kecamatan Kerek
Kabupaten Tuban.
Meski terlahir tanpa memiliki kaki, Daswadi
tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama sang istri,
Warsi. Usaha itu adalah mengolah bambu menjadi kerajinan berbentuk
perlengkapan rumah tangga yang memiliki nilai jual.
"Ini (cacat
fisik) sudah sejak lahir," jawabnya singkat tanpa terbersit rasa malu
sedikit pun kepada wartawan yang singgah di halaman rumahnya," Jumat
(25/10/2013).
Sambil terus bekerja, Daswadi menemani para tamunya
itu. Terlihat kedua tanganya sangat terampil menganyam bambu-bambu yang
telah dibelahnya. Selanjutnya dengan menggunakan tangan pula, laki-laki
yang terlahir pada tahun 1951 silam itu menggantikan fungsi kaki untuk
berjalan mengambil benda-benda yang dibutuhkan.
"Dengan fisik seperti ini, saya dulu sempat menyerah dan bingung berpikir mau bekerja apa saat itu," ujarnya.
Kondisi
fisik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya kala itu sempat
membuat Daswadi muda merasa malu. Setiap hari Ia hanya meratapi nasibnya
sambil duduk sendiri di rumah.
Namun suatu hari saat duduk
sendiri di depan rumah, ide cemerlang datang. Ruas bambu yang banyak
berserakan di depan rumahnya coba dikumpulkan lalu dipecah. Kemudian
Daswadi mencoba menganyam keranjang rumput dengan meniru bentuk yang
dimiliki orang tuanya
Keranjang pertama buatan Daswadi memang tidak begitu bagus. Tapi Ia
terus berusaha menganyam hingga menghasilkan beberapa keranjang. "Ada
tetangga yang lihat keranjang saya tertarik lalu pesan," ceritanya.
Perkembanganya,
Daswadi tak hanya membuat keranjang rumput. Tanganya yang terampil juga
menghasilkan sejumlah anyaman lain. Diantaranya Widhig (tempat untuk
menjemur ikan) dan Gedheg (anyaman bambu yang difungsikan untuk dinding
rumah).
Untuk memasarkan hasil anyaman Daswadi tidak terlalu
kesulitan. Tengkulak biasanya datang membeli lalu dijual kembali ke
sejumlah pasar. Keranjang dijual Rp 30.000 per buah, Widhig Rp 25 ribu
per buah dan Gedheg Rp 60 ribu per meter.
Sejak saat itu Daswadi
tidak lagi malu dengan kondisi fisiknya. Bahkan pantang baginya mengeluh
maupun meminta bantuan kepada orang lain. Segala kebutuhan hidup
dicukupi sendiri bersama sang istri.
Pasangan yang telah menikah
puluhan tahun dan belum dikaruniai momongan itu hidup bahagia di dalam
sebuah rumah bambu sederhana. Bangunan semi permanen tersebut didirikan
di atas lahan tanah negara. Lantai tanah dan dinding berlubang menjadi
hiasannya rumah.
Namun diusia senja ini, fisik Daswadi dan istri
sudah semakin lemah dan sering sakit-sakitan. Untuk meringankan beban
keduanya, beberapa tetangga dekat terkadang memberi sedikit perhatian.
Kisah
Hidup Daswadi tersebut mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi
kita, bahwa fisik tak sempurna bukan menjadi halangan untuk tetap
bekerja keras dan hidup mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar