Senin, 18 November 2013

terlahir tanpa kaki tak menghalingi perjuangan hidup pengrajin keranjang

Tuban - Kondisi fisik tidak sempurna bukan menjadi alasan untuk pasrah dan berdiam diri di rumah. Begitulah pesan yang ingin disampaikan Daswadi (63), warga Desa Temayang Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban.

Meski terlahir tanpa memiliki kaki, Daswadi tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama sang istri, Warsi. Usaha itu adalah mengolah bambu menjadi kerajinan berbentuk perlengkapan rumah tangga yang memiliki nilai jual.

"Ini (cacat fisik) sudah sejak lahir," jawabnya singkat tanpa terbersit rasa malu sedikit pun kepada wartawan yang singgah di halaman rumahnya," Jumat (25/10/2013).

Sambil terus bekerja, Daswadi menemani para tamunya itu. Terlihat kedua tanganya sangat terampil menganyam bambu-bambu yang telah dibelahnya. Selanjutnya dengan menggunakan tangan pula, laki-laki yang terlahir pada tahun 1951 silam itu menggantikan fungsi kaki untuk berjalan mengambil benda-benda yang dibutuhkan.

"Dengan fisik seperti ini, saya dulu sempat menyerah dan bingung berpikir mau bekerja apa saat itu," ujarnya.

Kondisi fisik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya kala itu sempat membuat Daswadi muda merasa malu. Setiap hari Ia hanya meratapi nasibnya sambil duduk sendiri di rumah.

Namun suatu hari saat duduk sendiri di depan rumah, ide cemerlang datang. Ruas bambu yang banyak berserakan di depan rumahnya coba dikumpulkan lalu dipecah. Kemudian Daswadi mencoba menganyam keranjang rumput dengan meniru bentuk yang dimiliki orang tuanya
Keranjang pertama buatan Daswadi memang tidak begitu bagus. Tapi Ia terus berusaha menganyam hingga menghasilkan beberapa keranjang. "Ada tetangga yang lihat keranjang saya tertarik lalu pesan," ceritanya.

Perkembanganya, Daswadi tak hanya membuat keranjang rumput. Tanganya yang terampil juga menghasilkan sejumlah anyaman lain. Diantaranya Widhig (tempat untuk menjemur ikan) dan Gedheg (anyaman bambu yang difungsikan untuk dinding rumah).

Untuk memasarkan hasil anyaman Daswadi tidak terlalu kesulitan. Tengkulak biasanya datang membeli lalu dijual kembali ke sejumlah pasar. Keranjang dijual Rp 30.000 per buah, Widhig Rp 25 ribu per buah dan Gedheg Rp 60 ribu per meter.

Sejak saat itu Daswadi tidak lagi malu dengan kondisi fisiknya. Bahkan pantang baginya mengeluh maupun meminta bantuan kepada orang lain. Segala kebutuhan hidup dicukupi sendiri bersama sang istri.

Pasangan yang telah menikah puluhan tahun dan belum dikaruniai momongan itu hidup bahagia di dalam sebuah rumah bambu sederhana. Bangunan semi permanen tersebut didirikan di atas lahan tanah negara. Lantai tanah dan dinding berlubang menjadi hiasannya rumah.

Namun diusia senja ini, fisik Daswadi dan istri sudah semakin lemah dan sering sakit-sakitan. Untuk meringankan beban keduanya, beberapa tetangga dekat terkadang memberi sedikit perhatian.

Kisah Hidup Daswadi tersebut mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa fisik tak sempurna bukan menjadi halangan untuk tetap bekerja keras dan hidup mandiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar